Ekonomi Asia Tengah Dan Eropa Diproyeksi Kena Resesi Tahun Ini

From Acre Linux Database
Revision as of 12:51, 14 July 2020 by Bariron4 (talk | contribs) (Created page with "Baik pertumbuhan ekonomi global maupun negara di dunia merosot karena terganggunya aktivitas perekonomian akibat pandemi Covid-19. Para ahli mengatakan bahwa kemungkinan terja...")
(diff) ← Older revision | Latest revision (diff) | Newer revision → (diff)
Jump to: navigation, search

Baik pertumbuhan ekonomi global maupun negara di dunia merosot karena terganggunya aktivitas perekonomian akibat pandemi Covid-19. Para ahli mengatakan bahwa kemungkinan terjadinya resesi "sangat tidak menyenangkan" dalam 12 hingga 18 bulan ke depan, meskipun ada tindakan dari pembuat kebijakan untuk mencoba dan membalikkan arah. solid gold , Dana Moneter Internasional merevisi turun prospek pertumbuhan ekonomi global 2019 dan 2020, serta mengatakan bahwa pertumbuhan di negara-negara ekonomi utama Asia akan melambat lebih dari yang diharapkan.
Akar penyebab keruntuhan di Asia bukanlah besarnya hutang, korupsi dan inefisiensi yang sedemikian sering dikutip oleh para ahli ekonomi barat (sebelumnya ekonomi-ekonomi ini dijunjung sebagai model efisiensi dan bukti keunggulan ekonomi pasar!). Faktor-faktor ini hanyalah manifestasi luar dari masalah yang lebih dalam. Seandainya pasar Asia terus berkembang, menghasilkan banyak penjualan dan laba, tak seorangpun akan memperhatikan hutang, manipulasi dan ketimpangan. Hal-hal tersebut terdapat dalam setiap boom kapitalis dan mereka ada dalam ekonomi AS sekarang ini. Konsekuensinya, bukan tidak adanya kepercayaan yang menyebabkan krisis, namun adanya krisis yang menyebabkan runtuhnya kepercayaan, yang memanifestasikan dirinya dalam jatuhnya mata uang (Baht Thailand), skandal keuangan dan crash bursa saham.
Untuk kawasan Asia Tenggara sendiri, ICAEW memprediksi bahwa sebagian besar Negara di Asia Tenggara akan menghadapi resesi di semester pertama 2020, sebelum mengalami kontraksi sebesar 1,9% di tahun yang sama. Perekonomian Negara-Negara ASEAN seperti Indonesia, Thailand, Malaysia, Filipina, dan Vietnam diperkirakan akan menurun sebesar 0,7% di tahun 2020, dibandingkan dengan ekonomi global yang diperkirakan akan menurun 4%. Para analis mengatakan pukulan dari wabah virus pada bisnis dan konsumen kemungkinan telah mengarahkan ekonomi ke dalam resesi, menyusul kontraksi yang lebih dalam dari yang diperkirakan pada kuartal keempat. Rantai pasokan, perdagangan, dan pariwisata sangat terganggu ketika virus itu menyebar dari Cina ke negara-negara tetangganya di Asia dan kemudian ke seluruh dunia.
Para ahli ekonomi yang serius sepakat bahwa bahaya paling besar yang dihadapi Amerika dan ekonomi dunia sekarang adalah krisis deflasi. Hal ini belum terlihat sejak 1930-an--kecuali di Jepang selama lebih dari sepuluh tahun terakhir. Ini adalah gerakan spiral menurun di mana harga-harga turun, permintaan turun dan runtuhnya bank yang semuanya ini bersamaan menarik ekonomi ke dalam depresi. Karena kondisi ini, di mana margin laba telah menurun, kenaikan signifikan suku bunga akan mengurangi profitabilitas. Jatuhnya laba menyebabkan jatuhnya harga dalam pasar bursa, yang kemudian bereaksi terhadap pasar keseluruhan.
Menurut dia, sistem keuangan Indonesia saat ini sudah makin terintegrasi dengan pasar global. Perkiraan Bank Dunia, Tiongkok dapat tumbuh 2,3 persen tahun 2020 ini. Kawasan Asia Timur dan Pasifik bisa tumbuh 1,3 persen, anjlok dari capaian 2019 yang bisa menyentuh level 4,7 persen. Kondisi ini tentu menguntungkan bagi Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang merupakan bagian dari kerja sama ekonomi Asiai-Pasifik.
Meski asumsinya mirip Bank Dunia, ADB punya perkiraan yang berbeda, yakni 2,5 persen. Suasana prihatin itu pula yang membingkai pertemuan virtual Menteri Keuangan dan bank sentral negara G-20, pada 23 Maret lalu. Forum itu mengakui, pandemi corona telah memberikan tekanan berat pada perekonomian global. Bahkan, Dana Moneter Internasional (IMF) yang hadir pada acara itu memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi global bakal negatif.